Waspada Gelembung Ekonomi yang Merugikan Investasi

taubgt.com – Jika berencana melakukan investasi properti, maka gelembung ekonomi adalah hal yang perlu kamu waspadai.

Pasalnya, gelembung ekonomi atau economic bubble adalah salah satu penyebab krisis moneter di Amerika Serikat pada tahun 2008 yang juga berdampak pada kondisi global.

Tak menutup kemungkinan gelembung ekonomi ini akan kembali terjadi di masa mendatang jika kita tak waspada dengan berbagai tanda-tandanya.

Memang, apa sebenarnya gelembung ekonomi itu? Mengapa pula ini dapat berbahaya bagi investasi? Simak ulasannya berikut.

Baca Juga: Disebut Lebih Parah dari Resesi, Apa Sebenarnya Depresi Ekonomi?

Pengertian Gelembung Ekonomi

© Freepik.com

Bersumber dari Investopedia, gelembung ekonomi atau economic bubble adalah suatu siklus ekonomi di mana adanya peningkatan yang sangat cepat terhadap nilai suatu objek, terutama pada harga aset atau properti.

Seperti halnya gelembung, nilai suatu objek yang memiliki peningkatan cukup cepat lama-kelamaan akan ‘pecah’.

Artinya, harga yang tadinya cukup tinggi pada suatu titik akan terjun bebas menjadi sangat rendah.

Tentu bubble ini bukan pertanda baik. Hal ini menyebabkan kerugian sangat besar terutama bagi perekonomian secara makro.

beberapa gelembung terjadi secara alami sebagai bagian dari siklus ekonomi, beberapa juga terjadi sebagai akibat dari kelalaian investor dan berfungsi sebagai koreksi.

Ini biasanya terjadi pada efek, pasar saham, real estate dan berbagai sektor usaha lain karena perubahan para pemain kunci dalam melakukan bisnisnya.

Hal ini kemudian mengakibatkan gelembung yang dapat memiliki dampak ekonomi signifikan.

Penyebab Gelembung Ekonomi

© Freepik.com

Bersumber dari Moneyunder30, penyebab pasti gelembung ekonomi masih diperdebatkan oleh banyak ahli.

Salah satu pendapatnya adalah ketika terjadi momentum saat terdapat lini bisnis yang sedang menjadi favorit sehingga pendapatan perusahaan di lini bisnis tersebut pun meningkat.

Hal ini menjadikan perusahaan memberikan bonus atau upah lebih tinggi kepada karyawannya.

Bonus-bonus ini kemudian digunakan untuk konsumsi seperti aset atau properti.

Banyaknya permintaan terhadap aset dan properti tersebut tentu menaikkan harganya. Hal inilah yang lama-lama akan berubah menjadi gelembung.

Ahli lain menyatakan bahwa adanya bubble ini juga terjadi akibat kondisi ekonomi yang sedang likuid.

Likuditas ini membuat meminjam uang menjadi lebih mudah. Akibatnya, banyak yang meminjam uang dan digunakan untuk membeli aset dan properti.

Semakin banyak yang melakukan ini, maka harga aset dan properti juga semakin meningkat. Inilah penyebab klasik dari adanya economic bubble.

Beberapa ekonom yang mempunyai teori bahwa gelembung adalah ketidakseimbangan dalam cara orang melihat kesempatan.

Pasalnya, mereka mencoba untuk mengejar harga aset daripada membuat pembelian berdasarkan nilai intrinsik dari aset.

Dalam buku karya John Keynes yang berjudul “The General Theory of Employment, Interest and Money”, ada kecenderungan manusia untuk mengonsumsi sesuatu secara emosional, tanpa memperhitungkan berbagai halnya.

Oleh karenanya, mereka cenderung membeli sesuatu karena hal tersebut sedang naik, dan berharap kenaikannya akan berlangsung lama.

Padahal, hal ini yang justru menjadi penyebab terjadinya bubble dalam siklus ekonomi.

Baca Juga: Sering Membuat Ngeri, Sebenarnya Apa Itu Resesi Ekonomi?

Tahapan Terjadinya Gelembung

© Freepik.com

Terdapat beberapa tahapan yang terjadi dalam terbentuknya bubble dalam siklus ekonomi. Berikut adalah tahapan-tahapannya:

1. Displacement

Tahap pertama dari terjadinya bubble adalah ketika investor atau pengusaha melihat adanya peluang baru yang dirasa menguntungkan.

Hal ini seperti munculnya teknologi baru, kebijakan ekonomi, rendahnya nilai bunga dan sebagainya.

Berbagai hal tadi akan menarik perhatian banyak investor untuk berbondong-bondong menginvestasikannya.

2. Boom

Tahapan selanjutnya yaitu boom. Pada tahapan ini, harga terus naik.

Hal ini menjadi perhatian oleh lebih banyak investor dan mengakibatkan banyak yang ikut masuk di dalamnya.

Harganya yang terus naik memunculkan anggapan bahwa ini akan berlangsung cukup lama dan sangat kecil kemungkinan untuk jatuh.

3. Euphoria

Selanjutnya yaitu euphoria. Tahapan ini ditandai dengan harganya yang semakin meninggi sehingga investor di awal-awal merasa senang akan hasil yang didapat.

Berita mengenai keuntungan tersebut semakin tersebar, sehingga lebih banyak lagi investor yang masuk agar tak ketinggalan euphoria yang terjadi.

4. Profit taking

Kemudian adalah tahap dimana investor merasa ada yang janggal dengan meningkatnya harga tersebut.

Pada tahapan inilah beberapa investor mulai menjual aset-asetnya dan mendapatkan keuntungan sebelum gelembung tersebut pecah dan memberikan kerugian.

5. Panic

Tahapan terakhir adalah kala harga aset mulai terjun bebas.

Banyak investor yang rela menjualnya di harga berapapun untuk meminimalisasi kerugian.

Menurunnya harga biasanya sama cepatnya dengan meningkatnya harga di awal siklus ini terjadi.

Harga aset semakin menurun sedangkan suplai masih sangat banyak.

Dampak yang Ditimbulkan

© Freepik.com

Dilihat dari penyebab economic bubble yang bergantung pada banyak hal, dampak yang ditimbulkan pun juga memengaruhi berbagai bidang.

Tak jarangm bubble berdampak pada krisis ekonomi secara global.

Bersumber dari Economicshelp, dampak dari adanya gelembung ekonomi akan sangat terasa jika terjadi gelembung pada bidang-bidang yang cukup krusial seperti pada aset, atau saham.

Pada tahun 1927 misalnya, terjadi bubble pada pasar saham yang mengakibatkan harga bursa saham menurun secara signifikan.

Hal ini kemudian dikenal dengan nama great depression.

Pasalnya, menurunnya harga saham yang sangat curam pada saat itu berdampak pada kelesuan ekonomi secara makro.

Terjadinya bubble di sektor properti justru memberikan dampak yang lebih besar.

Hal ini dikarenakan properti merupakan sumber terbesar dari kekayaan. Dengan adanya bubble pada sektor tersebut, maka akibat yang ditimbulkan juga lebih besar.

Hal berbeda justru terjadi pada sektor komoditas.

Jika terjadi bubble pada minyak atau emas, hal ini justru meningkatkan konsumsi masyarakat, yang justru berdampak baik pada aktivitas ekonomi.

Tanda Terjadinya Gelembung Ekonomi

© Freepik.com

Bersumber dari Forbes, terdapat beberapa tanda yang dapat kamu waspadai sebelum terjadinya bubble dan merugikanmu.

1. Peningkatan harga dengan cukup cepat

Salah satu tanda akan terjadinya bubble adalah adanya peningkatan harga yang cukup cepat. Hal ini dapat berlaku bagi berbagai hal.

2. Masuknya investor secara masif

Harga yang meningkat dengan cepat tentu menarik perhatian banyak investor untuk menginvestasikan dananya di sektor tersebut.

3. Kebanyakan investasi dilakukan tanpa analisis

Tanda lain dari terjadinya gelembung ekonomi adalah berbagai investasi tersebut kebanyakan dilakukan tanpa analisis yang jelas, ikut-ikutan, atau hanya larut dalam euphoria.

Seperti kala demam gelombang cinta di Indonesia, pada awalnya hal ini terlihat investasi yang menjanjikan karena harganya yang terus naik.

Banyak orang tertarik untuk membelinya tanpa melakukan perhitungan yang matang.

Namun, lama-kelamaan terjadi bubble yang mengakibatkan harganya turun drastis.

Jika kamu tertarik untuk berinvestasi di sektor ini, maka kamu harus benar-benar tahu kapan untuk keluar dan berakhir di tahap profit taking.

Untungnya, gelombang cinta bukanlah sektor yang memengaruhi banyak lini, sehingga terjadinya gelembung hanya memengaruhi sebagian kecil masyarakat saja.

Baca Juga: Seperti Apa Prediksi Ekonomi Setelah Virus Corona Berakhir?

Dapat disimpulkan, ketika adanya gelembung ekonomi, suatu objek dalam mengalam kenaikan nilai yang signifikan dalam waktu singkat.

Hal tersebut pun wajib diwaspadai, terutama kamu yang baru mulai berinvestasi.

Maka sebelum investasi, ketahui tips dan cara investasi yang baik, menentukan objek investasi dan sejenisnya dengan berlangganan newsletter Glints.

Informasi-informasi tersebut akan kamu terima langsung di inbox-mu secara gratis. Yuk, daftarkan dirimu sekarang!

Sumber

    5 Bubble Signs That Should Make You Cautious

    Bubble

    Economic Bubbles: What They Are, Why They Happen, and Why You Should Care

    Types and causes of financial bubbles

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website glints.com. Situs https://taubgt.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://taubgt.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”

About vina

Fangirl Apple , a Moms and Tech Enthusiast yang kini ingin berbagi dan mengajak kamu untuk tahu lebih banyak tentang Apple Product. Terimakasih udah baca tulisan aku :DBesok datang lagi yach :D