Value Investing: Definisi, Metrik Analisis, Langkah, dan Tips Melakukannya

taubgt.com – Untuk meraup keuntungan, ada berbagai jenis strategi investasi yang bisa digunakan. Salah satu strategi yang cukup dikenal adalah value investing.

Konon, value investing adalah cara mencari dan membeli saham harga murah yang akan naik harganya di waktu mendatang sehingga untungnya sangat besar.

Bahkan, strategi ini digunakan oleh investor terkemuka, yaitu Warren Buffett.

Nah, bagaimana cara kerjanya? Yuk, simak artikel Glints ini untuk mempelajari seluk-beluk value investing.

Definisi Value Investing

Melansir Investopedia, value investing adalah salah satu jenis strategi investasi.

Dalam strategi ini, investor akan membeli saham yang diperdagangkan dengan nilai lebih rendah dari nilai intrinsik maupun nilai bukunya.

Pada dasarnya, saham ini dipandang remeh (undervalued) di pasar modal dan oleh investor lainnya sehingga harganya lebih murah.

Harapannya, saham yang dibeli dengan harga murah akan kemudian meningkat di waktu yang akan mendatang ketika orang-orang mulai menyadari nilai intrinsik sesungguhnya dari aset itu.

Jika tertarik menjadi value investor, kamu harus secara aktif memantau saham-saham potensial dengan karakteristik tersebut.

Beberapa tokoh terkenal yang merupakan value investor adalah Warren Buffet, Benjamin Graham, dan Seth Klarman.

Tokoh-tokoh ini menggunakan analisis finansial terkait perusahaan dan sahamnya.

Mereka berinvestasi tanpa mengikuti tren yang sedang diminati para investor lain.

Value investor mengumpulkan kekayaan yang sangat banyak dari strategi value investing ini sebagai investor jangka panjang.

Metrik Analisis Value Investing

Salah satu kemampuan yang wajib dimiliki investor yang memilih strategi ini adalah analisis yang tajam.

Biasanya, investor menggunakan berbagai metrik untuk menghitung nilai intrinsik sebuah saham sebelum memutuskan untuk melakukan investasi.

Jadi, pembeliannya tidak asal murah.

Nilai intrinsik sebuah perusahaan terdiri dari beberapa hal, yaitu:

    performa finansial

    pendapatan

    penghasilan

    cash flow

    keuntungan

    faktor-faktor fundamental (brand perusahaan, model bisnis, target pasar, dan keunggulan kompetitifnya)

Nah, seorang value investor harus mengukur sejumlah metrik untuk memutuskan apakah sebuah perusahaan layak investasi atau tidak.

Metrik-metrik value investing tersebut adalah sebagai berikut:

1. Price-to-book (P/B)

Price-to-book (P/B) juga dikenal sebagai nilai buku.

Metrik ini menilai valuasi sebuah aset perusahaan dan membandingkannya dengan harga saham.

Jika harga saham lebih rendah dari nilai aset yang dimiliki, berarti sahamnya dinilai undervalued.

Namun, untuk dapat disimpulkan demikian, value investor harus memastikan bahwa perusahaan tidak sedang mengalami kesulitan secara finansial.

2. Price-to-earning (P/E)

Metrik ini digunakan untuk mengetahui data pendapatan.

Dengan begitu, value investor bisa mengetahui jika harga sahamnya tidak sesuai dengan pendapatannya.

Ini juga berarti sahamnya undervalued.

3. Free cash flow

Free cash flow dalam value investing adalah uang yang dimiliki perusahaan secara tunai setelah biaya biaya-biaya telah dibayarkan.

Biaya-biaya ini adalah hal-hal pokok seperti biaya operasional.

Langkah-Langkah Value Investing

Menurut Wealthy Education, setidaknya ada 3 langkah utama jika kamu ingin memulai value investing. Berikut penjelasannya.

1. Temukan perusahaan dengan fundamental bisnis yang kuat

Apabila kamu hanya melihat nilai saham yang turun tanpa menilai apakah perusahaan dapat memulihkan kondisi finansialnya atau tidak, ada kemungkinan kamu justru akan merugi.

Ada beberapa cara untuk menilai apakah perusahaan memiliki fundamental bisnis yang kuat atau tidak, salah satunya adalah melihat utang dan manajemen perusahaannya.

Selain itu, lihatlah apakah mereka tetap mampu bersaing dengan kompetitornya meskipun harga saham yang masih fluktuatif.

Secara keseluruhan, apabila perusahaan tersebut telah memiliki riwayat yang cukup baik secara finansial, kemungkinan besar perusahaan tersebut memang mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama.

2. Beli saham ketika nilainya turun

Langkah yang kedua adalah membeli saham perusahaan tersebut ketika nilainya turun.

Perusahaan dengan fundamental bisnis yang kuat tetap memiliki kemungkinan untuk mengalami penurunan nilai saham karena beberapa kondisi, seperti:

    adanya skandal internal manajemen

    adanya pemberitaan negatif tentang perusahaan

Namun, kondisi di atas tidak akan secara signifikan mengurangi daya saing mereka.

Ketika kamu melihat bahwa mereka masih bisa beroperasi seperti biasa padahal nilai sahamnya turun, kamu bisa pertimbangkan untuk membelinya.

3. Jual saham ketika nilainya naik

Setelah kamu mengetahu waktu-waktu terbaik untuk membeli saham yang undervalued, kini saatnya untuk mempelajari kapan harus menjualnya supaya bisa hasilkan profit.

Perusahaan pasti memiliki kuasa dan mencari cara untuk menciptakan berita positif mengenai bisnis mereka.

Kebalikan dari berita negatif yang tadi disebutkan, berita positif inilah yang juga akan mempengaruhi nilai saham mereka yang akhirnya naik.

Itulah saat terbaik untuk kamu menjual saham saat nilainya masih naik.

Prinsip dan Tips Value Investing

© Unsplash.com

1. Lakukan riset

Menurut Money Under 30, sangat penting untuk melakukan analisis perusahaan.

Meskipun tahap ini cukup menghabiskan banyak waktu dan membutuhkan pertimbangan matang, kamu akan terhindar dari risiko kerugian dengan lebih baik.

Selain mempertimbangkan elemen-elemen dan metrik-metrik yang sudah disebutkan sebelumnya, value investor juga perlu memahami tentang:

    rencana jangka panjang bisnis

    prinsip bisnis

    struktur finansial

    jajaran atas perusahaan (CEO, CFO, dan lain-lain)

Penting untuk menemukan perusahaan meyakinkan yang bisa berlanjut untuk jangka panjang dan membayar dividen secara konsisten.

Pasalnya, value investing bukanlah investasi jangka pendek.

2. Diversifikasi portofolio

Diversifikasi portofolio adalah hal yang penting dalam value investing.

Sebagai value investor, kamu harus memiliki beberapa jenis investasi dalam portofoliomu agar terhindar dari kerugian yang besar.

3. Cari keuntungan yang aman dan konsisten

Fokus strategi ini bukanlah keuntungan yang besar dalam waktu singkat.

Lebih baik, cari saham yang risikonya rendah namun memberikan keuntungan konsisten dari tahun ke tahun.

Nah, itulah serba-serbi tentang value investing yang bisa Glints jelaskan.

Apakah kamu sudah memutuskan untuk mulai menerapkan strategi ini, atau masih mau mendalami dunia investasi?

Jika kamu masih mau belajar lebih banyak tantang investasi, Glints sudah siapkan kumpulan artikel tentang dunia finansial di Glints Blog!

Semua artikelnya bisa kamu baca secara gratis. Yuk, baca artikel terbarunya di sini sekarang!

Sumber

    Value Investing

    The Beginner’s Guide to Value Investing

    The Complete Value Investing Guide for Beginners

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website glints.com. Situs https://taubgt.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://taubgt.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”

About vina

Fangirl Apple , a Moms and Tech Enthusiast yang kini ingin berbagi dan mengajak kamu untuk tahu lebih banyak tentang Apple Product. Terimakasih udah baca tulisan aku :DBesok datang lagi yach :D